Kelompok marjinal kerap terjebak mengemis musiman, membuat mereka sulit keluar dari lingkaran kemiskinan yang menjerat tiap tahun.
Mengemis musiman bukan sekadar fenomena sosial sementara. Bagi kelompok marjinal, aktivitas ini menjadi jebakan yang sulit dilepas, menjaga lingkaran kemiskinan tetap mengikat generasi demi generasi. Berita dan Perspektif Isu Sosial ini menelisik faktor penyebab, dampak ekonomi, dan tantangan untuk memutus rantai kemiskinan yang menjerat mereka.
Fenomena Mengemis Musiman Di Imlek
Kamis (19/2/2026) — Setiap perayaan Imlek, pengemis musiman selalu bermunculan di vihara-vihara besar di Jakarta maupun kota-kota lain di Indonesia. Mereka datang dengan harapan mendapatkan rezeki dari umat Khonghucu yang beribadah, memanfaatkan momen berkah yang diyakini datang setiap tahun.
Vihara Bahtera Bhakti Ancol, Jakarta Utara, menjadi salah satu lokasi paling ramai. Puluhan pengemis dari berbagai daerah berkumpul, membawa kardus untuk alas duduk, payung, makanan, dan pakaian ganti, menunggu kesempatan berbagi rezeki dari para jemaat.
Mereka bahkan rela bermalam di depan vihara sehari sebelum Imlek, menahan panas dan hujan, hanya untuk memastikan mereka mendapatkan sebagian dari bantuan atau angpau yang diberikan. Aktivitas ini menunjukkan bagaimana kelompok marginal menyesuaikan diri dengan momen sosial dan keagamaan.
Ketimpangan Sosial Yang Terlihat
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai praktik mengemis musiman adalah cerminan nyata ketimpangan sosial di tengah masyarakat. Menurutnya, para pengemis menganggap vihara sebagai tempat yang strategis karena memiliki daya tarik emosional dan simbolis bagi jemaat yang datang.
Imlek yang identik dengan kemakmuran juga mendorong pengemis untuk datang. Mereka menganggap sebagian besar umat yang hadir berasal dari kelas menengah ke atas sehingga kemungkinan mendapat bantuan lebih besar. Hal ini mencerminkan ketimpangan sosial yang masih membayangi masyarakat.
Ketergantungan kelompok marginal pada pemberian ini memperlihatkan bahwa mereka masih belum memiliki akses yang memadai untuk meningkatkan kesejahteraan sendiri. Bantuan yang diterima hanya bersifat sementara, sehingga tidak mengubah kondisi ekonomi mereka secara fundamental.
Baca Juga: Semarak Ramadan di Masjid Istiqlal: Dari Ibadah Akbar Hingga Aksi Sosial Penuh Berkah
Faktor Sosial Dan Ekonomi Yang Mendorong
Faktor utama pengemis musiman muncul adalah kondisi ekonomi keluarga yang kurang mencukupi. Ketika penghasilan sehari-hari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, momen keagamaan seperti Imlek menjadi peluang untuk menambah pendapatan.
Budaya berbagi rezeki yang dilakukan oleh umat Khonghucu, seperti pemberian angpau atau sedekah, memperkuat pola mengemis musiman ini. Kelompok marginal memandang hal ini sebagai sumber pendapatan sementara yang dapat diandalkan setiap tahun.
Namun, dampaknya cukup serius. Ketika kelompok marginal terbiasa menerima bantuan pada momen tertentu, mereka bisa menjadi pasif dalam mencari pekerjaan tetap atau usaha mandiri, sehingga ketergantungan pada bantuan orang lain terus berlangsung.
Dampak Ketergantungan Terhadap Solidaritas Sosial
Meskipun berbagi rezeki merupakan bentuk solidaritas sosial yang mulia, ketergantungan pada bantuan musiman menimbulkan masalah jangka panjang. Kelompok marginal yang mengandalkan kemurahan hati orang lain cenderung tidak berupaya meningkatkan kondisi ekonomi secara mandiri.
Fenomena ini menunjukkan ketimpangan dalam struktur sosial. Solidaritas bisa menjadi jembatan sementara antara mereka yang mampu dan yang membutuhkan, tetapi jika terus terjadi, hal ini menghambat kemampuan kelompok marginal untuk keluar dari kemiskinan.
Rakhmat menekankan bahwa siklus ini menciptakan ketergantungan jangka panjang. Bantuan yang bersifat sementara tidak menyelesaikan akar masalah, sehingga kelompok marginal akan terus mengulang pola mengemis setiap momen keagamaan seperti Imlek, Natal, atau Idul Fitri.
Peran Pemerintah Dan Solusi Berkelanjutan
Pemerintah memiliki peran penting untuk memutus siklus mengemis musiman. Bantuan sosial harus dibuat lebih terstruktur dan berkelanjutan, fokus pada pemberdayaan ekonomi agar kelompok marginal bisa memperoleh penghasilan mandiri.
Program pendidikan keterampilan, pelatihan kerja, dan pemberian modal usaha dapat membantu kelompok marginal memperoleh kesempatan ekonomi yang lebih stabil. Dengan demikian, mereka tidak lagi bergantung pada momen keagamaan untuk bertahan hidup.
Selain itu, penyediaan lapangan kerja yang layak dan akses yang setara sangat diperlukan. Solusi ini akan memastikan perayaan keagamaan seperti Imlek tidak dimanfaatkan untuk mengemis, sekaligus membantu kelompok marginal keluar dari kemiskinan dan mengurangi ketimpangan sosial jangka panjang.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari megapolitan.kompas.com
- Gambar Kedua dari megapolitan.kompas.com